8 Produk Terkenal Israel yang mana Diboikot serta Alasannya

8 Produk Terkenal Israel yang Diboikot serta Alasannya

Jakarta – Beberapa tahun belakangan ini, popularitas gerakan Boikot, Divestasi, serta Sanksi (BDS) semakin meningkat dalam dalam beberapa negara. Hal ini seiring dengan memanasnya konflik antara Israel serta Palestina.

Melansir dari Al Jazeera, BDS berpotensi menghasilkan kerugian hingga US$11,5 miliar atau sekitar Rp180,35 triliun (asumsi kurs Rp15.683/US$) per tahun bagi Israel. Sebenarnya, apa itu Gerakan BDS?

Mengutip dari laman resmi BDS Movement, BDS adalah gerakan boikot (penolakan) dari konsumen guna meyakinkan para pelaku perdagangan di tempat tempat seluruh dunia untuk berhenti memasarkan hasil jika Israel. Akibatnya, eksportir Israel akan kesulitan untuk mengekspor komoditas mereka.

Adapun, BDS juga bertujuan untuk memberikan tekanan perekonomian kepada Israel agar memberikan hak setara kepada Palestina. Umumnya, gerakan BDS mencakup perusahaan yang dimaksud mana melibatkan pemukiman ilegal, mengeksploitasi sumber daya alam dari tanah Palestina, juga menggunakan warga Palestina sebagai tenaga kerja murah.

Lalu, apa semata produk-produk milik Israel yang dimaksud diboikot melalui gerakan BDS?

1. HP

FILE PHOTO: A Hewlett-Packard logo is seen at the company's Executive Briefing Center in Palo Alto, California January 16, 2013. REUTERS/Stephen Lam/File Photo                            GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD - SEARCH GLOBAL BUSINESS 19 FEB FOR ALL IMAGESFoto: REUTERS/Stephen Lam
FILE PHOTO: A Hewlett-Packard logo is seen at the company’s Executive Briefing Center in Palo Alto, California January 16, 2013. REUTERS/Stephen Lam/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD – SEARCH GLOBAL BUSINESS 19 FEB FOR ALL IMAGES

Menurut BDS Movement, perusahaan-perusahaan merek HP menyediakan juga juga mengoperasikan teknologi yang dimaksud mana digunakan oleh Israel untuk menjaga sistem apartheid, pendudukan, juga kolonialisme pemukiman di tempat tempat atas rakyat Palestina.

“Selain menyediakan layanan juga teknologi kepada tentara kemudian polisi Israel yang mana digunakan menjaga pendudukan ilegal Israel lalu pengepungan Gaza, HP juga menyediakan Itanium servers eksklusif kepada Otoritas Penduduk juga Imigrasi Israel untuk sistem Aviv mereka,” tulis BDS Movement, dikutip Senin (16/10/2023).

2. Siemens

SiemensFoto: REUTERS/Lukas Barth
Siemens

Siemens diklaim terlibat dalam perniagaan ilegal Israel untuk perkembangan EuroAsia Interconnector dalam pemukiman.

EuroAsia Interconnector ini rencananya akan menghubungkan jaringan listrik Israel dengan Eropa. Dilaporkan, pemukiman ilegal dalam tanah Palestina akan dicuri untuk mendapatkan manfaat dari perdagangan listrik antara Israel juga Uni Eropa yang tersebut dihasilkan dari gas fosil.

3. AXA

Asuransi AXA disebut berinvestasi pada area bank-bank Israel yang tersebut mana bercampur tangan dalam tanah Palestina. Adapun, bank-bank Israel yang tersebut yang disebut sahamnya dikuasai AXA adalah Bank Hapoalim, Bank Leumi, serta Mizrahi Tehafot.

Melalui anak perusahaannya, AXA Investment Managers lalu kepemilikan saham sebesar 64 persen di tempat dalam AXA Equitable Holdings, AXA juga memiliki penyetoran modal dalam lima bank utama Israel, yaitu Bank Hapoalim, Bank Leumi, First International Bank of Israel, Israel Discount Bank, juga Mizrahi Tefahot Bank.

4. Puma

Puma Fashion (NurPhoto via Getty Images)Foto: Puma Fashion (NurPhoto via Getty Images)

Puma adalah salah satu produsen pakaian olahraga terkemuka dalam dunia. Namun, Puma diboikot oleh beberapa jumlah agregat rakyat di tempat tempat dunia oleh sebab itu menjadi sponsor internasional tunggal Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA).

“Puma memberikan legitimasi internasional terhadap aktivitas IFA, salah satunya klub sepak bola yang tersebut hal tersebut berbasis di dalam area pemukiman ilegal Israel pada tanah Palestina,” tulis BDS Movement.

“Dukungan Puma terhadap IFA secara langsung menggalang pelanggaran hak asasi manusia serta hukum internasional pada luar lapangan, serta memungkinkan rezim pemukiman Israel untuk terus berkembang,” lanjut BDS Movement.

5. Buah-buahan kemudian Sayuran Israel

Buah, sayuran, lalu anggur dari Israel sering dilabeli sebagai “Produksi pada dalam Israel” oleh sebab itu dianggap berasal dari tanah Palestina yang dimaksud mana dirampas. Maka dari itu, gerakan BDS menyokong warga dunia untuk tidak ada ada mengonsumsi buah-buahan kemudian sayuran dari Israel.

“Boikot semua item dari Israel dalam dalam supermarket Anda juga juga tuntut agar komoditas itu ditiadakan dari rak-rak supermarket,” tulis BDS Movement.

6. SodaStream

SodaStream adalah mesin juga silinder yang tersebut mana dapat diisi kembali sehingga para pengguna mampu menimbulkan soda atau minuman air berkarbonasi sendiri di tempat dalam rumah.

SodaStream menjadi target boikot akibat dinilai secara berpartisipasi turut serta dalam kebijakan Israel yang digunakan dimaksud menggusur warga asli Palestina suku Bedouin dalam Naqab.

“SodaStream mempunyai sejarah panjang perlakuan buruk serta diskriminasi terhadap pekerja Palestina,” ungkap BDS Movement.

7. Ahava

Ahava adalah salah satu merek komoditas kecantikan yang mana dijual pada area banyak negara. Menurut catatan BDS Movement, Ahava Cosmetics mempunyai situs produksi, pusat kunjungan, serta toko utama pada pemukiman Israel ilegal.

8. Sabra

Hummus Sabra adalah usaha patungan antara PepsiCo dan juga juga Strauss Group, sebuah perusahaan makanan Israel yang mana digunakan memberikan dukungan finansial kepada tentara Israel sehingga turut menjadi target boikot penduduk dunia.

Menurut laporan Al Jazeera pada 2018, dalam beberapa waktu terakhir misi prioritas diplomatik Israel adalah penanggulangan BDS. Bahkan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah lama lama bertindak untuk melarang kelompok-kelompok yang digunakan digunakan menyokong gerakan BDS.

Namun, organisasi non-profit berbasis dalam Washington, Amerika Serikat (AS), Brookings Institution, menyatakan bahwa gerakan BDS bukan akan secara radikal mempengaruhi perekonomian Israel. Sebab, sekitar 40 persen ekspor Israel adalah barang “intermediet” atau hasil tersembunyi yang dimaksud digunakan dalam proses produksi barang pada dalam tempat lain, seperti semikonduktor.

Selain itu, sekitar 50 persen dari ekspor Israel adalah barang “diferensiasi” atau barang yang dimaksud mana tidaklah dapat digantikan seperti chip komputer khusus.

Namun, data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa ekspor barang-barang “intermediet” mengalami penurunan tajam dari 2014 hingga 2016 sehingga menimbulkan kerugian sekitar US$6 miliar atau sekitar Rp94,25 triliun.

Pada periode yang tersebut sama, penyetoran modal asing pun justru meningkat hingga US$12 miliar atau sekitar Rp188,5 triliun setelah turun menjadi US$6 miliar usai serangan Gaza pada 2014 yang mana menewaskan 1.462 warga sipil.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *