Mampukah Boikot Produk Israel Bikin Jerusalem Bangkrut?

Mampukah Boikot Produk Israel Bikin Jerusalem Bangkrut?

Jakarta Beberapa tahun belakangan ini, popularitas gerakan Boikot, Divestasi, serta Sanksi (BDS) semakin meningkat dalam beberapa negara. Hal ini seiring dengan konflik antara Israel kemudian Palestina yang mana tidaklah ada kunjung usai.

Melansir dari Al Jazeera, gerakan BDS berpotensi menghasilkan kerugian hingga US$11,5 miliar atau sekitar Rp180,35 triliun (asumsi kurs Rp15.683/US$) per tahun bagi Israel. Sebenarnya, apa itu Gerakan BDS?

Mengutip dari laman resmi BDS Movement, BDS adalah gerakan boikot (penolakan) dari konsumen guna meyakinkan para pelaku perdagangan dalam seluruh dunia untuk berhenti mengedarkan item dengan syarat Israel. Akibatnya, eksportir Israel akan kesulitan untuk mengekspor hasil mereka.

BDS juga bertujuan untuk memberikan tekanan dunia bidang usaha kepada Israel agar memberikan hak setara kepada Palestina.

Umumnya, gerakan BDS mencakup perusahaan yang tersebut dimaksud melibatkan pemukiman ilegal, mengeksploitasi sumber daya alam dari tanah Palestina, juga menggunakan warga Palestina sebagai tenaga kerja murah.

Menurut laporan Al Jazeera pada 2018, dalam beberapa waktu terakhir misi prioritas diplomatik Israel adalah penanggulangan BDS. Bahkan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sudah pernah bertindak untuk melarang kelompok-kelompok yang tersebut menyokong gerakan BDS.

Palestina menghadapi krisis air bersih kemudian kelaparan setelah Israel menyetop seluruh pasokan kebutuhan hidup ke wilayah tersebut. (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)Foto: Palestina menghadapi krisis air bersih serta kelaparan setelah Israel menyetop seluruh pasokan kebutuhan hidup ke wilayah tersebut. (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa).

Sebenarnya, apakah gerakan BDS ampuh untuk menimbulkan perekonomian Israel merosot?

Organisasi non-profit berbasis dalam Washington, Amerika Serikat (AS), Brookings Institution, menyatakan bahwa gerakan BDS tak ada akan secara tajam mempengaruhi perekonomian Israel. Sebab, sekitar 40 persen ekspor Israel adalah barang “intermediet” atau komoditas tersembunyi yang tersebut digunakan dalam proses produksi barang dalam tempat lain, seperti semikonduktor.

Selain itu, sekitar 50 persen dari ekspor Israel adalah barang “diferensiasi” atau barang yang dimaksud dimaksud tak dapat digantikan seperti chip komputer khusus.

Namun, data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa ekspor barang-barang “intermediet” mengalami penurunan tajam dari 2014 hingga 2016 sehingga menimbulkan kerugian sekitar US$6 miliar atau sekitar Rp94,25 triliun.

Klaim dari Israel

Passengers look out of a window as they travel on Israel's new high-speed rail line from Ben Gurion International Airport to Jerusalem September 25, 2018. REUTERS/Amir CohenFoto: Kereta Cepat Yerusalem (REUTERS/Amir Cohen)
Passengers look out of a window as they travel on Israel’s new high-speed rail line from Ben Gurion International Airport to Jerusalem September 25, 2018. REUTERS/Amir Cohen

Sementara itu, melansir dari The Jerusalem Post, gerakan BDS tak akan merugikan Israel kemudian juga tiada mampu meredakan penderitaan rakyat Palestina. Bahkan, gerakan BDS belaka akan “menambah penderitaan rakyat Palestina, bukan menguranginya”.

Dalam artikel Desember 2022 tersebut, ada beberapa faktor yang dimaksud menimbulkan gerakan BDS “sia-sia” bagi Israel, yakni pola psikologis kemudian juga perekonomian.

1. Pola Psikologis

Dalam laporan The Jerusalem Post disebutkan bahwa gerakan BDS sia-sia akibat menurut pola psikologis, jika seseorang atau perusahaan semakin sering diserang juga difitnah, maka semakin beragam tindakan defensif yang dimaksud mana dilakukan.

“Alih-alih mengakui kesalahan, pihak yang digunakan digunakan disalahkan malah menginvestasikan sumber dayanya untuk membela diri atau menuntut balik,” tulis The Jerusalem Post, dikutip Senin (16/10/2023).

“Pengalaman penganiayaan yang digunakan mana panjang menyebabkan Israel lebih besar besar terlatih dan juga juga lebih tinggi banyak mampu dalam mencegah serangan semacam itu (boikot),” lanjut tulisan tersebut.

2. Perekonomian

Menurut laporan Rand Corporation bertajuk “Kerugian Konflik Israel-Palestina” pada 2022, secara absolut Israel memperoleh keuntungan tiga kali tambahan banyak daripada Palestina, yakni US$123 miliar atau sekitar Rp1.930 triliun selama 10 tahun.

Angka yang tersebut disebut sangat lebih tinggi besar tinggi bila dibandingkan dengan Palestina yang digunakan cuma memperoleh hasil kegiatan dunia usaha sebesar US$50 miliar atau sekitar Rp784,9 triliun.

Namun, rata-rata pendapatan per kapita rakyat Palestina diklaim akan meningkat sekitar 36 persen pada 2024, lebih banyak lanjut tinggi daripada rata-rata pendapatan per kapita Israel yang tersebut mana meningkat 5 persen.

“Kembalinya kekerasan akan menimbulkan konsekuensi kegiatan dunia usaha yang mana digunakan sangat negatif bagi warga Palestina serta Israel, yakni item domestik bruto per kapita akan turun sebesar 46 persen di area dalam Tepi Barat juga Gaza, serta sebesar 10 persen di tempat area Israel pada 2024,” tulis laporan Rand Corporation.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *